DI BALIK LAYAR KONFLIK ANTARA KORUT & KORSEL

Ketegangan makin meningkat antara Korea Utara & Korea Selatan setelah Korea Utara menembakkan artilerinya ke beberapa daerah di Korea Selatan pada hari Selasa, 23/11/2010 lalu. Cina menuduh bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatanlah yang memicu ketegangan tersebut setelah keduanya memutuskan untuk melakukan latihan militer gabungan di Laut Kuning. Sementara itu, Cina diam saja terhadap apa yang dilakukan oleh Korea Utara. Ketegangan tersebut terjadi satu tahun setekah Wakil Menteri Luas Negeri Amerika Serikat meluncurkan hubungan antara AS & Cina dengan disertai jaminan strategis untuk para antek Amerika di Asia, dan setelah AS melakukan berbagai upaya untuk menjaga hubungan tersebut.

Kompas.com tanggal 29/11/2010 melansir  sebuah analisis, bahwa ketegangan di Semenanjung Korea bukanlah antara Korea Utara & Korea Selatan, melainkan antara Amerika Serikat & Cina. Hal itu karena beberapa alasan. Pertama: Sebelum Presiden AS, Barrack Obama, telah menuntut Cina agar menekan (menaikkan) nilai mata uangnya “Yuan” terhadap dolar, akan tetapi Cina dengan keras menolak tuntutan tersebut dengan alasan bahwa masalah tersebut bukan masalah Cina, melainkan masalah dalam megeri AS. Akibatnya, neraca perdagangan AS mengalami defisit terhadap Cina. AS lalu mengubah perlakuannya menjadi perlakuan sahabat, jauh dari perlakuan agresif. Akan tetapi, Cina tidak mengubah sikapnya, bahkan tetap bersikeras dengan kebijakannya.

Kedua: Karena itu, AS lalu mencetak uang ratusan juta dolar untuk menekan (menaikkan) kurs mata uang Cina “Yuan” terhadap dolar. AS berhasil menekannya, tetapi AS menghadapi masalah inflasi keuangan di dalam negerinya sendiri dan perekonomiannya bertambah lemah.

Ketiga: Cina bertambah kuat dalam menghadapi AS. Atas dasar itu Obama menyatakan, “AS menghadapi ambisi-ambisi Cina bukan hanya sacara regional.”

Di sini ada pertanyaan: Lalu di mana posisi Indonesia di dalam permasalahan ini? Apakah Indonesia bersama AS atau Cina? Ataukah Indonesia mengambil sikap netral? Terutama setelah AS mengikat perjanjian dengan Pemerintahan Indonesia dalam apa yang disebut dengan “Kemitraan komprehensif”?

Benar, krisis ini diinginkan AS untuk memukul Cina ketika Cina menolak keinginan AS. AS ingin menarik Cina ke medan perang Korea. Kemudian AS hendak memukul Cina dengan dukungan sekutu dan antek-anteknya. Alasannya, karena Cina telah mengancam keamanan kawasan dan regional. AS telah memobilisasi negara-negara Asia untuk mengepung Cina. Ini tentu saja bukan permasalahan Indonesia. Karena itu, Indonesia wajib tidak berdiri di sisi AS ataupun Cina, betapapun upaya AS atau Cina untuk menarik Indonesia di sisi masing-masing di antara keduanya. Sebab, berada di sisi Cina ataupun AS tidak akan memberikan manfaat bagi Indonesia, baik yang merupakan negeri kaum muslim terbesar di dunia harus menjadi kekuatan yang mandiri, memiliki kehendak yang independen, dan Indonesia memiliki potensi untuk itu.

Akan tetapi, Indonesia tidak mungkin menjadi negara yang kuat dan mandiri kecuali jika bersandar kepada umatnya dalam akidah dan sistemnya, yaitu akidah Islam dan sistem yang terpancar darinya. Indonesia harus menjadi sebuah negara Khilafah yang berjalan menurut manhaj Kenabian. Kemuliaan bukanlah di sisi AS atau Cina, melainkan hanya ada di tangan Allah SWT.

AMERIKA DI BALIK KONFLIK “DUA KOREA”

Iran pernah berkonflik bertahun-tahun dengan Irak. Irak pernah menyerang Kuwait. Iran sering bersitegang dengan Israel. Israel puluhan kali menyerang Gaza. Roket-roket dan pesawat tempur Israel pernah membombardir basis Hizbullah di Lebanon. Masalah Israel-Palestina sudah puluhan tahun tidak pernah selesai. Itulah beberapa konflik yang terjadi di Timur Tengah.

Di Asia Timur, Cina mengarahkan banyak rudalnya ke Taiwan. Korea Utara sering bersitegang dengan Korea Selatan. Dan akhir-akhir ini konflik “Dua Korea” itu bahkan sampai pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Itulah segilincir konflik yang terjadi di berbagai dunia. Pertanyaan: Mengapa semua itu terjadi? Apakah semua itu Cuma kebetulan?

PERAN AMERIKA SERIKAT

Memang tidak semua konflik di berbagai negara adalah karena faktir AS. Namun, harus dikatakan, bahwa AS banyak memicu terjadinya konflik di seluruh dunia, termasuk konflik Korea Utara & Korea Selatan. Bahkan AS menjadikan konflik antarnegara sebagai strategi baru untuk menguasai dunia setelah era kolonialisme berakhir.

Dapat dikatakan bahwa ragam konflik di berbagai wilayah dunia sangat menguntungkan Barat, khususnya AS dalam upayanya untuk terus menguasai dunia, terutama kekuatan-kekuatan yang dianggap dapat menggangu kemapanan mereka. Dalam konteks konflik Korea Utara & Korea Selatan, AS sesungguhnya ingin memancing Cina. Dengan memancing Cina masuk dalam konflik “Dua Korea” ini, jelas AS bisa secara tidak langsung melemahkan Cina yang saat ini amat kuat secara ekonomi dan kekuatan ekonominya itu tengah mengancam AS.

Sebagaimana kita ketahui, Cina berada di Asia Timur bersama Korea (Utara & Selatan) dan Jepang. Wilayah Asia Timur ini dianggap memiliki potensi yang mampu menyaingi hegemoni Barat di dunia, yaitupenguasaan teknologi dan jumlah penduduknya. Jepang dan Korea selama ini dikenal sebagai dua negara ras kuning yang memiliki dan menguasai teknologi tinggi. Adapun Cina adalah penyumbang terbesar penghuni bumi dengan sekitar 2 miliar penduduknya. Akhir-akhir ini, Cina bahkan mengalahkan Jepang dari sisi ekonomi, selain itu juga penguasaan teknologinya. Selain itu, dari sisi ideologi, Cina yang komunis jelas berseberangan dengan AS yang kapitalis.

Karena itu, untuk melemahkan Cina, strategi konflik juga diterapkan As di kawasan Asia Timur ini. Langkahnya adalah dengan membantu kekuatan militer Taiwan dalam upaya negara pulau tersebut menangkal kemungkinan serangan militer Cina yang menganggap negara ini provinsinya yang membangkang. Langkah yang sama juga diterapkan dengan membantu militer Korea Selatan dalam mengantisipasi kemungkinan serangan nuklir tetangganya Korea Utara. Saat ini AS memiliki setidaknya dua pangkalan militernya di Asia Timur, yaitu di Okinawa Jepang sebagai bagian perjanjian di Perang Dunia Kedua dan di Korea Selatan.

Dengan kekuatan nuklir yang disinyalir dimiliki Korea Utara & Cina, maka negara-negara tetangganya tentu menjadi sangat khawatir. Karena ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan ini, maka bantuan militer Barat menjadi sangat dibutuhkan. Akibatnya, hungga saat ini Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan sangat bergantung pada bantuan militer Barat, utamanya AS. Kondisi ini tentu menguntungkan Barat yang ingin tetap menguasai dunia dengan menempatkan beragam kekuatannya di berbagai dunia, apalagi di kawasan-kawasan yang dapat menjadi ancaman kemapanannya.

Alhasil, konflik di berbagai wilayah di muka bumi ini terbukti menguntungkan Barat, khususnya AS. Konflik tentu membuat beragam kekuatan tidak bersatu. Sebaliknya, Barat & AS dengan visi & misi kapitalistiknya terus memelihara kondisi ini agar terus dapat menguasai dunia.

POSISI INDONESIA

Indonesia tentu harus belajar dari berbagai konflik tersebut. Indonesia tidak boleh terjebak dalam konflik-konflik dunia. Apalagi jika konflik-konflik tersebut secara sengaja diciptakan oleh negara-negara besar kapitalis-imperialis, seperti AS. Karena itu, dalam konteks konflik Korea Utara & Selatan pun,Indonesia haru bersikap waspada. Indonesia tidak boleh terlibat jauh dalam konflik kedua negara tersebut, yang sebetulnya hanya menguntungkan negara-negara kapitalis, khususnya AS.

Sebaliknya, Indonesia harus menjadi negara yang mandiri, Indonesia sesungguhnya adalah sebuah negara besar. Jumlah penduduknya merupakan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sumber Daya Alamnya melimpah ruah. Posisi geopolitik Indonesia di Asia Tenggara juga sangat strategis. Karena itulah Indonesia sesungguhnya bukan hanya mampu mandiri, bahkan berpotensi menjadi negara adidaya. Hanya saja, hal itu hanya akan terjadi jika Indonesia menjadi negara Khilafah Islamiyah, yang hanya bersandar pada ideologi Islam dengan mengatur seluruh urusan-urusannya, seperti ekonomi, politik, hubungan internasional, hukum, peradilan, pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya, dan keamanannya dengan syariah Islam.

About these ads